05 Juni 2009


Jend. TNI Purn. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono (lahir di Tremas, Arjosari, Pacitan, Jawa Timur, Indonesia, 9 September 1949; umur 59 tahun) adalah pensiunan jenderal militer Indonesia dan Presiden Indonesia ke-6 yang terpilih dalam pemilihan umum tahun 2004 yang merupakan pemilihan umum presiden Indonesia yang pertama yang diadakan dengan cara pemilihan secara langsung oleh rakyat. Yudhoyono menang dalam pemilu presiden September2004 melalui dua tahapan pemilu presiden atas kandidat Presiden Megawati Sukarnoputri. Ia mulai menjabat pada 20 Oktober 2004 bersama Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden. Susilo Bambang Yudhoyono juga merupakan Presiden Indonesia yang pertama yang menyelesaikan masa kepresidenan 5 tahun sejak era reformasi dimulai.

Yudhoyono yang dipanggil Sus oleh orang tuanya dan populer dengan panggilan SBY, melewatkan sebagian masa kecil dan remajanya di Pacitan. Melalui amandemen UUD 1945yang memungkinkan presiden dipilih secara langsung oleh rakyat, ia kemudian terpilih menjadiPresiden Republik Indonesia pertama pilihan rakyat. Ia menjadi presiden Indonesia keenam setelah dilantik pada 20 Oktober 2004 bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla. Karier militernya terhenti ketika ia diangkat Presiden Abdurrahman Wahid sebagai Menteri Pertambangan dan Energi pada tahun 1999 dan tampil sebagai salah seorang pendiri Partai Demokrat. Pangkat terakhir Susilo Bambang Yudhoyono adalah Jenderal TNI sebelum pensiun pada 25 September2000. Selama di militer lebih dikenal sebagai Bambang Yudhoyono.
Keunggulan suaranya dari Presiden sebelumnya, Megawati Soekarnoputri pada pemilu 2004membuatnya terpilih sebagai kepala negara Indonesia. Dalam kehidupan pribadinya, Ia menikah dengan Kristiani Herawati yang merupakan anak perempuan ketiga Jenderal (Purn)Sarwo Edhi Wibowo (alm), komandan RPKAD (kini Kopassus) yang turut membantu menumpas Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1965.
Ia lahir di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur pada 9 September 1949 dari anak pasangan Raden Soekotjo dan Siti Habibah. Dari ayahnya, silsilahnya dapat dilacak hingga Pangeran Buwono Keling dari Kerajaan Majapahitdengan RM. Kustilah yang merupakan keturunan Gusti Bandoro Ayu (putri Sri Sultan Hamengkubuwono III.
Seperti ayahnya; Viditaris Sasongko, ia pun berkecimpung di dunia kemiliteran. Selain tinggal di kediaman keluarga di Bogor (Jawa Barat), SBY juga tinggal di Istana Merdeka, Jakarta. Susilo Bambang Yudhoyono menikah dengan Kristiani Herawati yang adalah anak perempuan ketiga Jenderal (Purnawirawan) Sarwo Edhi Wibowo (alm). Komandan militer Jenderal Sarwo Edhi Wibowo turut membantu menumpas PKI (Partai Komunis Indonesia) pada tahun 1965. Dari pernikahan mereka lahir dua anak lelaki, yaitu Agus Harimurti Yudhoyono (lahir 1979) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (lahir 1982).
Agus adalah lulusan dari SMA Taruna Nusantara tahun 1997 dan Akademi Militer Indonesia tahun 2000. Seperti ayahnya, ia juga mendapatkan penghargaan Adhi Mekayasa dan seorang prajurit dengan pangkat Letnan Satu TNI Angkatan Darat yang bertugas di sebuah batalion infantri di Bandung, Jawa Barat. Agus menikahi Anissa Larasati Pohan, seorang aktris yang juga anak dari mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia. Sejak pertengahan 2005, Agus menjalani pendidikan untuk gelar master-nya di Strategic Studies at Institute of Defense and Strategic

Pendidikan
 Akademi Angkatan Bersenjata RI (Akabri) tahun 1973
 American Language Course, Lackland, Texas AS, 1976
 Airbone and Ranger Course, Fort Benning , AS, 1976
 Infantry Officer Advanced Course, Fort Benning, AS, 1982-1983
 On the job training di 82-nd Airbone Division, Fort Bragg, AS, 1983
 Jungle Warfare School, Panama, 1983
 Kursus Senjata Antitank di Belgia dan Jerman, 1984
 Kursus Komando Batalyon, 1985
 Sekolah Komando Angkatan Darat, 1988-1989
 Command and General Staff College, Fort Leavenworth, Kansas, AS
 Master of Art (MA) dari Management Webster University, Missouri, AS
 Doktor dalam bidang Ekonomi Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB), tahun 2004.

Ringkasan karir
Susilo Bambang Yudhoyono
 Dan Tonpan Yonif Linud 330 Kostrad (1974-1976)
 Dan Tonpan Yonif 305 Kostrad (1976-1977)
 Dan Tn Mo 81 Yonif Linud 330 Kostrad (1977)
 Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17 Kujang I Kostrad (1977-1978)
 Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad (1979-1981)
 Paban Muda Sops SUAD (1981-1982)
 Komandan Sekolah Pelatih Infanteri (1983-1985)
 Dan Yonif 744 Dam IX/Udayana (1986-1988)
 Paban Madyalat Sops Dam IX/Udayana (1988)
 Dosen Seskoad (1989-1992)
 Korspri Pangab (1993)
 Dan Brigif Linud 17 Kujang 1 Kostrad (1993-1994)
 Asops Kodam Jaya (1994-1995)
 Danrem 072/Pamungkas Kodam IV/Diponegoro (1995)
 Chief Military Observer United Nation Peace Forces (UNPF) di Bosnia-Herzegovina (sejak awal November 1995)
 Kasdam Jaya (1996-hanya lima bulan)
 Pangdam II/Sriwijaya (1996-) sekaligus Ketua Bakorstanasda
 Ketua Fraksi ABRI MPR (Sidang Istimewa MPR 1998)
 Kepala Staf Teritorial (Kaster ABRI (1998-1999)
 Mentamben (sejak 26 Oktober 1999)
 Menko Polsoskam (Pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid)
 Menko Polkam (Pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri) mengundurkan diri 11 Maret 2004
 Presiden Republik Indonesia (2004-Sedang Menjabat)

Penghargaan
 Tri Sakti Wiratama (Prestasi Tertinggi Gabungan Mental Fisik, dan Intelek), 1973
 Adhi Makayasa (lulusan terbaik Akabri 1973)
 Satya Lencana Seroja, 1976
 Honor Graduate IOAC, USA, 1983
 Satya Lencana Dwija Sista, 1985
 Lulusan terbaik Seskoad Susreg XXVI, 1989
 Dosen Terbaik Seskoad, 1989
 Satya Lencana Santi Dharma, 1996
 Satya Lencana United Nations Peacekeeping Force (UNPF), 1996
 Satya Lencana United Nations Transitional Authority in Eastern Slavonia, Baranja, and Western Sirmium (UNTAES), 1996
 Bintang Kartika Eka Paksi Nararya, 1998
 Bintang Yudha Dharma Nararya, 1998
 Wing Penerbang TNI-AU, 1998
 Wing Kapal Selam TNI-AL, 1998
 Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, 1999
 Bintang Yudha Dharma Pratama, 1999
 Bintang Dharma, 1999
 Bintang Maha Putera Utama, 1999
 Tokoh Berbahasa Lisan Terbaik, 2003
 Bintang Asia (Star of Asia), 2005, oleh BusinessWeek
 Bintang Kehormatan Darjah Kerabat Laila Utama, 2006, oleh Sultan Brunei
 Doktor Honoris Causa, 2006, oleh Universitas Keio
 Darjah Utama Seri Mahkota, 2008, oleh Yang DiPertuan Agong Tuanku Mizan Zainal Abidin
 100 tokoh Berpengaruh Dunia 2009 kategori Pemimpin & Revolusioner Majalah TIME, 2009, oleh TIME
Susilo Bambang Yudhoyono juga pernah dicalonkan untuk menjadi penerima penghargaan Nobel perdamaian 2006 bersama dengan Gerakan Aceh Merdeka dan Martti Ahtisaari atas inisiatif mereka untuk perdamaian di Aceh. Website Resmi Sby http://www.presidensby.info/


Awal kehidupan dan karier
Jusuf Kalla lahir di Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan pada tanggal 15 Mei1942) sebagai anak ke-2 dari 17 bersaudara dari pasangan Haji Kalla dan Athirah, pengusaha keturunan Bugis yang memiliki bendera usaha Kalla Group. Bisnis keluarga Kalla tersebut meliputi beberapa kelompok perusahaan di berbagai bidang industri. Tahun 1968, Jusuf Kalla menjadi CEO dari NV Hadji Kalla. Di bawah kepemimpinannya, NV Hadji Kalla berkembang dari sekedar bisnis ekspor-impor, meluas ke bidang-bidang perhotelan, konstruksi, pejualan kendaraan, perkapalan, real estate, transportasi, peternakan udang, kelapa sawit, dan telekomunikasi. Di Makassar, Jusuf Kalla dikenal akrab disapa oleh masyarakat dengan panggilan Daeng Ucu.

Pengalaman organisasi kemahasiswaan Jusuf Kalla antara lain adalah Ketua HMI Cabang Makassar tahun 1965-1966, Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Hasanuddin (UNHAS) 1965-1966, serta Ketua Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) tahun 1967-1969. Sebelum terjun ke politik, Jusuf Kalla pernah menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) Sulawesi Selatan. Hingga kini, ia pun masih menjabat Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) di alamamaternya Universitas Hasanuddin, setelah terpilih kembali pada musyawarah September 2006.

Jusuf Kalla menjabat sebagai menteri di era pemerintahan Abdurrahman Wahid (Presiden RI yang ke-4), tetapi diberhentikan dengan tuduhan terlibat KKN. Jusuf Kalla kembali diangkat sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat di bawah pemerintahan Megawati Soekarnoputri (Presiden RI yang ke-5). Jusuf Kalla kemudian mengundurkan diri sebagai menteri karena maju sebagai calon wakil presiden, mendampingi calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Dengan kemenangan yang diraih oleh Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden RI yang ke-6, secara otomatis Jusuf Kalla juga berhasil meraih jabatan sebagai Wakil Presiden RI yang ke-10. Bersama-sama dengan Susilo Bambang Yudhoyono, keduanya menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI yang pertama kali dipilih secara langsung oleh rakyat.

Ia menjabat sebagai ketua umum Partai Golongan Karya menggantikan Akbar Tanjung sejak Desember 2004. Pada 10 Januari 2007, ia melantik 185 pengurus Badan Penelitian dan Pengembangan Kekaryaan Partai Golkar di Kantor DPP Partai Golongan Karya di Slipi, Jakarta Barat, yang mayoritas anggotanya adalah cendekiawan, pejabat publik, pegawai negeri sipil, pensiunan jenderal, dan pengamat politik yang kebanyakan bergelar master, doktor, dan profesor.
H.M. Jusuf Kalla menikah dengan Hj. Mufidah Jusuf, dan dikaruniai seorang putra dan empat putri, serta sembilan orang cucu.

Pendidikan
 Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin (1967)
 The European Institute of Business Administration, Perancis (1977)
Menjelang Pemilu Presiden 2009
Setelah tidak berkomitmen untuk koalisi dengan Partai Demokrat, ia ditetapkan dalam Rapat Pimpinan Nasional Khusus Partai Partai Golkar] sebagai Calon Presiden dalam Pemilihan Presiden 2009. Dalam perkembangan terakhir, JK memutuskan menggandeng Ketua Umum Partai Hanura Wiranto sebagai cawapresnya. Website Resmi Jusuf Kalla di www.jusufkalla.info



Diah Permata Megawati Setiawati Soekarnoputri (lahir di Yogyakarta, 23 Januari 1947; umur 62 tahun) adalah Presiden Indonesia dari 23 Juli 2001 - 20 Oktober 2004. Ia merupakan presiden wanita pertama dan presiden kelima di Indonesia. Namanya cukup dikenal denganMegawati Soekarnoputri. Pada 20 September 2004, ia kalah dalam tahap kedua pemilu presiden 2004. Ia menjadi presiden setelah MPR mengadakan Sidang Istimewa pada tahun 2001. Sidang Istimewa MPR diadakan dalam menanggapi langkah Presiden Abdurrahman Wahid yang membekukan lembaga MPR/DPR dan Partai Golkar. Ia dilantik pada 23 Juli 2001. Sebelumnya dari tahun 1999-2001, ia adalah Wakil Presiden.

Kehidupan awal
Megawati adalah anak kedua Presiden Soekarno yang telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Ibunya Fatmawati kelahiran Bengkulu di mana Sukarno dahulu diasingkan pada masa penjajahan belanda. Megawati dibesarkan dalam suasana kemewahan di Istana Merdeka.
Dia pernah menuntut ilmu di Universitas Padjadjaran di Bandung (tidak sampai lulus) dalam bidang pertanian, selain juga pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (tetapi tidak sampai lulus).
Karir politik Mega yang penuh liku seakan sejalan dengan garis kehidupan rumah tangganya yang pernah mengalami kegagalan. Suami pertamanya, seorang pilot AURI, tewas dalam kecelakaan pesawat di laut sekitar Biak, Irian Jaya. Waktu itu usia Mega masih awal dua puluhan dengan dua anak yang masih kecil. Namun, ia menjalin kasih kembali dengan seorang pria asal Mesir, tetapi pernikahannya tak berlangsung lama. Kebahagiaan dan kedamaian hidup rumah tangganya baru dirasakan setelah ia menikah dengan Moh. Taufiq Kiemas, rekannya sesama aktivis di GMNI dulu, yang juga menjadi salah seorang penggerakPDIP.

Karir Politik
Jejak politik sang ayah berpengaruh kuat pada Megawati. Karena sejak mahasiswa, saat kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Pajajaran, ia pun aktif di GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia).
1986

Tahun 1986 ia mulai masuk ke dunia politik, sebagai wakil ketua PDI Cabang Jakarta Pusat. Karir politiknya terbilang melesat. Mega hanya butuh waktu satu tahun menjadi anggota DPR RI.
1993
Dalam Kongres Luar Biasa PDI yang diselenggarakan di Surabaya 1993, Megawati terpilih secara aklamasisebagai Ketua Umum PDI.
1996
Namun, pemerintah tidak puas dengan terpilihnya Mega sebagai Ketua Umum PDI. Mega pun didongkel dalam Kongres PDI di Medan pada tahun 1996, yang memilih Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI.
Mega tidak menerima pendongkelan dirinya dan tidak mengakui Kongres Medan. Ia masih merasa sebagai Ketua Umum PDI yang sah. Kantor dan perlengkapannya pun dikuasai oleh pihak Mega. Pihak Mega tidak mau surut satu langkah pun. Mereka tetap berusaha mempertahankan kantor DPP PDI. Namun,Soerjadi yang didukung pemerintah memberi ancaman akan merebut secara paksa kantor DPP PDI yang terletak di Jalan Diponegoro.
Ancaman Soerjadi kemudian menjadi kenyataan. Tanggal 27 Juli 1996 kelompok Soerjadi benar-benar merebut kantor DPP PDI dari pendukung Mega. Aksi penyerangan yang menyebabkan puluhan pendukung Mega meninggal itu, berbuntut pada kerusuhan massal di Jakarta yang dikenal dengan nama Peristiwa 27 Juli. Kerusuhan itu pula yang membuat beberapa aktivis mendekam di penjara.
Peristiwa penyerangan kantor DPP PDI tidak menyurutkan langkah Mega. Malah, ia makin mantap mengibarkan perlawanan. Ia memilih jalur hukum, walaupun kemudian kandas di pengadilan. Mega tetap tidak berhenti. Tak pelak, PDI pun terbalah dua: PDI di bawah Soerjadi dan PDI pimpinan Mega. Pemerintah mengakui Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI yang sah. Namun, massa PDI lebih berpihak pada Mega.
1997
Keberpihakan massa PDI kepada Mega makin terlihat pada pemilu 1997. Perolehan suara PDI di bawah Soerjadi merosot tajam. Sebagian massa Mega berpihak ke Partai Persatuan Pembangunan, yang kemudian melahirkan istilah "Mega Bintang". Mega sendiri memilih golput saat itu.
1999
Pemilu 1999, PDI Mega yang berubah nama menjadi PDI Perjuangan berhasil memenangkan pemilu. Meski bukan menang telak, tetapi ia berhasil meraih lebih dari tiga puluh persen suara. Massa pendukungnya, memaksa supaya Mega menjadi presiden. Mereka mengancam, kalau Mega tidak jadi presiden akan terjadi revolusi.
Namun alur yang berkembang dalam Sidang Umum 1999 mengatakan lain: memilih KH Abdurrahman Wahid sebagai Presiden. Ia kalah tipis dalam voting pemilihan Presiden: 373 banding 313 suara.
2001
Namun, waktu juga yang berpihak kepada Megawati Sukarnoputri. Ia tidak harus menunggu lima tahun untuk menggantikan posisi Presiden Abdurrahman Wahid, setelah Sidang Umum 1999 menggagalkannya menjadi Presiden. Sidang Istimewa MPR, Senin (23/7/2001), telah menaikkan statusnya menjadi Presiden, setelah Presiden Abdurrahman Wahid dicabut mandatnya oleh MPR RI.
2004
Masa pemerintahan Megawati ditandai dengan semakin menguatnya konsolidasi demokrasi di Indonesia, dalam masa pemerintahannyalah, pemilihan umum presiden secara langsung dilaksanakan dan secara umum dianggap merupakan salah satu keberhasilan proses demokratisasi di Indonesia. Ia mengalami kekalahan (40% - 60%) dalam pemilihan umum presiden 2004 tersebut dan harus menyerahkan tonggak kepresidenan kepada Susilo Bambang Yudhoyono mantan Menteri Koordinator pada masa pemerintahannya.

Perjalanan karir
1. Anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (Bandung), (1965)
2. Anggota DPR-RI, (1993)
3. Anggota Fraksi DPI Komisi IV
4. Ketua DPC PDI Jakarta Pusat, Anggota FPDI DPR-RI, (1987-1997)
5. Ketua Umum PDI versi
6. Munas Kemang (1993-sekarang) PDI yang dipimpinnya berganti nama menjadi PDI Perjuangan pada 1999-sekarang
7. Wakil Presiden Republik Indonesia, (Oktober 1999-23 Juli 2001)
8. Presiden Republik Indonesia ke-5, (23 Juli 2001-2004)

Perjalanan pendidikan
1. SD Perguruan Cikini Jakarta, (1954-1959)
2. SLTP Perguruan Cikini Jakarta, (1960-1962)
3. SLTA Perguruan Cikini Jakarta, (1963-1965)
4. Fakultas Pertanian UNPAD Bandung (1965-1967), (tidak selesai)
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1970-1972), (tidak selesai)

20 Mei 2009


Buah naga adalah buah dari beberapa jenis kaktus dari marga Hylocereusdan Selenicereus. Buah ini berasal dari Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan namun sekarang juga dibudidayakan di negara-negara Asia seperti Taiwan, Vietnam,Filipina, dan Malaysia. Buah ini juga dapat ditemui di Okinawa, Israel, Australia utara danTiongkok selatan. Hylocereus hanya mekar pada malam hari.

Pada tahun 1870 tanaman ini dibawa orang Perancis dari Guyana ke Vietnam sebagai tanaman hias. Oleh orang Vietnam dan orang Cina buahnya dianggap membawa berkah. Oleh sebab itu, buah ini selalu diletakkan di antara dua ekor patung naga berwarna hijau di atas meja altar. Warna merah buah jadi mencolok sekali di antara warna naga-naga yang hijau. Dari kebiasaan inilah buah itu di kalangan orang Vietnam yang sangat terpengaruh budaya Cina dikenal sebagai thang loy (buah naga). Thang loy orang Vietnam ini kemudian diterjemahkan di Eropa dan negara lain yang berbahasa Inggris sebagai dragon fruit (buah naga).
Macamnya
Nama buah naga diberikan pada buah-buah yang dapat dimakan dari tumbuhan:
 Hylocereus undatus, yang buahnya berwarna merah dengan daging buah putih
 Hylocereus polyrhizus, yang buahnya berwarna merah muda dengan daging buah merah dan
 Selenicereus megalanthus dengan kulit buah kuning dan daging buah putih
 Hylocereus costaricensis buah naga daging super merah.
Morfologi

Morfologi tanaman buah naga terdiri dari akar, batang, duri dan bunga serta buah. Akar buah naga hanyalah akar serabut yang berkembang di dalam tanah di batang atas sebagai akar gantung. Akar tumbuh di sepanjang batang di bagian punggung sirip di sudut batang. Di bagian duri muncul ini akan tumbuh bunga yang bentuknya mirip bunga Wijayakusuma. Bunga yang tidak rontok berkembang menjadi buah. Buah naga bentuknya bulat agak lonjong seukuran dengan buah alpukat. Kulit buahnya berwarna merah menyala untuk jenis buah naga putih dan merah, berwarna merah gelap untuk buah naga hitam dan berwarna kuning untuk buah naga kuning. Di sekujur kulit dipenuhi dengan jumbai-jumbai yang dianalogikan dengan sisik seekor naga. Oleh sebab itu, buah ini disebut buah naga. Batangnya berbentuk segitiga, durinya pendek sekali dan tidak mencolok, sampai mereka dianggap "kaktus tak berduri". Bunganya mekar mulai senja, kalau kuncup bunga sudah sepanjang 30 cm. Itulah saatnya kita mengundang para tetangga dan handai taulan pencinta bunga untuk menyaksikan mekarnya buah naga.Mahkota bunga bagian luar yang krem itu mekar pada pukul sembilan (kira-kira), lalu disusul mahkota bagian dalam yang putih bersih, meliputi sejumlah benangsari yang kuning. Bunga seperti corong itu akhirnya terbuka penuh pada tengah malam. Itulah sebabnya ia tersiar luas ke seluruh dunia sebagai night blooming cereus. Sambil mekar penuh ini, ia menyebar bau yang harum. Ternyata bau ini disebar ke seluruh penjuru angin malam, untuk menarik para kelelawar, agar sudi kiranya datang bertandang untuk menyerbuki bunga itu. Dalam gelap gulitanya hutan belantara malam, mata kelelawar memang kurang awas, tetapi hidungnya "tajam"
Pembudidayaan buah naga

Orang biasanya memperbanyak tanaman dengan cara setek atau menyemai biji. Tanaman akan tumbuh subur jika media tanam porous (tidak becek), kaya akan unsur hara, berpasir, cukup sinar matahari dan bersuhu antara 38-40o C. Jika perawatan cukup baik, tanaman akan mulai berbuah pada umur 11- 17 bulan. Kota Malang berada 400-700 dpl, sangat cocok untuk budidaya buah naga merah. Walaupun memiliki udara yang cukup sejuk, namun mendapatkan sinar matahari yang cukup merupakan modal untuk pertumbuhan buah naga merah . Buah naga dapat berkembang dengan kondisi tanah dan ketinggian lokasi apapun, namun tumbuhan ini cukup rakus akan unsur hara, sehingga apabila tanah mengandung pupuk yang bagus, maka pertumbuhannyapun akan pesat sekali. Dalam waktu 1 tahun, tanaman bisa mencapai ketinggian 3 meter lebih. Berdasarkan beberapa sumber, buah naga belum banyak dibudidayakan di Indonesia, sementara ini data yang diperoleh baru daerah : Mojokerto, Jember, Malang, Pasuruan, Bayuwangi, dan Kulon Progo. Dengan luas areal masing-masing tidak lebih dari 3 ha
Manfaat Buah Naga

Dibalik rasanya yang manis menyegarkan, buah naga kaya akan manfaat. Banyak orang percaya buah ini dapat menurunkan kolesterol dan penyeimbang gula darah. Memang belum ada penelitian pasti tentang manfaat buah ini. Namun, mengingat asalnya dari jenis buah kaktus, kita percaya buah naga mengandung vitamin C, beta karoten, kalsium dan karbohidrat. Yang pasti buah naga tinggi serat sebagai pengikat zat karsinogen penyebab kanker dan memperlancar proses pencernaan.

Sumber : wikipedia.org


19 Mei 2009


Calon Wakil Presiden (Cawapres) pendamping SBY, Capres Partai Demokrat, ini seorang ekonom profesional bertangan dingin. Tangan dingin Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada dan Doktor Ekonomi Bisnis lulusan Wharton School University of Pennsylvania, AS 1979, ini terbukti selama menjabat Menteri Keuangan pada pemerintahan Megawati, Menko Perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu (resuffle Senin (5/12/2005), maupun sebagai Gubernur Bank Indonesia.

Selama menjabat Menkeu Kabinet Gotong-Royong, suami dari Herawati dan ayah dua anak (Ratriana Ekarini dan Dios Kurniawan), ini berhasil membenahi bidang fiskal, masalah kurs, suku bunga dan pertumbuhan ekonomi.
Bersama dalam The Dream Team dan Bank Indonesia, Master of Economics, Monash University, Melbourne, Australia (1972), itu berhasil menstabilkan kurs rupiah pada kisaran Rp 9000-an per dolar AS. Begitu pula dengan suku bunga berada dalam posisi yang cukup baik merangsang kegiatan bisnis, sehingga pertumbuhan ekonomi menaik secara signifikan. Pria berpenampilan kalem dan santun serta terukur berbicara itu juga dinilai mampu membuat situasi ekonomi yang saat itu masih kacau menjadi dingin.
Saat baru menjabat Menkeu, langkah pertama yang dilakukan berpenampilan rapih dan low profile itu adalah menyelesaikan Letter of Intent dengan IMF yang telah disepakati sebelumnya serta mempersiapkan pertemuan Paris Club September 2001. Paris Club ini merupakan salah satu pertemuan penting karena menyangkut anggaran 2002.

Setelah itu, dia bersama tim ekonomi Kabinet Gotong-Royong, secara terencana mengakhiri kerjasama dengan IMF (Dana Moneter Internasional) Desember 2003.
Departemen Keuangan di bawah kendali pria kelahiran Blitar, Jawa Timur, 25 Februari 1943, itu pun berhasil melampaui masa transisi pascaprogram IMF, yang sebelumnya sudah dia ingatkan akan sangat rawan, bukan hanya menyangkut masalah dana, tetapi juga menyangkut rasa percaya (confidence) pasar. Apalagi kala itu, Pemilihan Umum 2004 juga berlangsung. Kondisi rawan itu pun berhasil dilalui tanpa terjadi guncangan ekonomi.

Dia berhasil menggalang kerjasama dengan Bank Indonesia dan tim ekonomi lainnya, kecuali dengan Kwik Kian Gie yang kala itu tampak berbicara sendiri sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/ Kepala Bappenas.
Sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Gotong Royong, ia berhasil memperbaiki keuangan pemerintah dengan sangat baik sehingga mampu membawa Indonesia lepas dari bantuan Dana Moneter Internasional.
Tak heran bila majalah BusinessWeek (AS), memberi Boediono pengakuan sebagai tokoh yang kompeten di posisinya sebagai menteri keuangan. Ia dipandang sebagai salah seorang menteri yang paling berprestasi dalam Kabinet Gotong Royong.
Maka ketika Susilo Bambang Yudhoyono terpilih sebagai presiden, banyak orang mengira bahwa Boediono akan dipertahankan dalam jabatannya, namun posisinya ternyata ditempati Jusuf Anwar. Ternyata, Jusuf Anwar hanya bisa bertahan lebih satu tahun.

Saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan perombakan (reshuffle) kabinet pada 5 Desember 2005, Boediono diangkat menggantikan Aburizal Bakrie menjadi Menteri Koordinator bidang Perekonomian dan mengangkat Sri Mulyani menggantikan Jusuf Anwar sebagai Menteri Keuangan.

Boediono sendiri, dikabarkan sempat menolak secara halus saat diminta oleh Presiden Yudhoyono untuk memperkuat jajaran tim ekonomi, dengan alasan hendak beristirahat dan kembali mengajar. Namun, akhirnya ia memenuhi permintaan SBY.
Tiga hari sebelumnya, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyo dalam jumpa pers di Pangkalan TNI Angkatan Udara Kelapa Sawit, Medan, Sumatera Utara, Jumat (2/12/2005), mengungkapkan telah meminta mantan Menteri Keuangan Boediono untuk memperkuat tim ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu, pasar pun menyambutnya dengan antusias. IHSG dan mata uang rupiah langsung menguat.
Terlihat dari nilai tukur rupiah yang langsung naik dibawah Rp 10.000 per dolar AS. Boediono dinilai mampu mengelola makro-ekonomi yang kini belum didukung pemulihan sektor riil dan moneter. Juga perdagangan di lantai Bursa Efek Jakarta (BEJ) naik signifikan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEJ langsung ditutup menguat hingga 23,046 poin (naik sekitar 2 persen) dan berada di posisi 1.119,417, berhasil menembus level 1.100.

Berbagai pelaku bisnis menilai Boediono kredibel, low profile, tidak banyak bicara, prudent dan sangat konservatif. Presiden mengakui, sebelum terbang ke Sibolga, Kamis (1/12) pagi, telah bertemu Boediono, memintanya memperkuat tim ekonomi. Menurut Presiden, Boediono cukup meyakinkan untuk mengelola makro-ekonomi dengan baik.Namun, menurut Presiden SBY, Boediono mengaku ingin beristirahat sambil berbuat baik bagi negara tanpa harus bergabung di kabinet. "Tetapi saya minta, Pak Boediono kalau negara memerlukan, kalau rakyat menghendaki dan Anda harus masuk pemerintahan, tentu itu amanah. Mudah-mudahan semuanya berjalan baik dalam satu dua hari ini," kata Presiden SBY.

Presiden SBY didampingi Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, Juru Bicara Presiden Andi Mallarangeng, dan Wakil Gubernur Sumatera Utara Rudolf Pardede, menginginkan ada komunikasi dan konsultasi yang baik antara pemerintah dan Bank Indonesia.Diungkapkan, inflasi tahun 2005 yang lebih buruk dari tahun 2004 dinilai jauh dari harapan. Tentu ada faktor yang bisa menjelaskan mengapa inflasi buruk. Harus ada keterpaduan atau harmoni kebijakan fiskal yang dibuat pemerintah dan kebijakan moneter dari Bank Indonesia.

Presiden berharap Boediono akan mampu membenahi kinerja ekonomi Indonesia, terutama di sektor riil dan terkait dengan tingginya laju inflasi saat ini menyusul kenaikan harga BBM pada 1 Oktober 2005 diiringi tingginya tingkat konsumsi pada bulan puasa Ramadhan dan Lebaran November 2005."Mengapa saya akan menata kembali tim ekonomi karena kita ingin semuanya tertata baik, makro-ekonomi, mikro-ekonomi, jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang. Ada yang harus bergerak cepat, yaitu ekonomi, tetapi harus ada yang menjaga stabilitas jangka panjang, sustainability, dan balance, kata Presiden SBY.

Presiden menginginkan orang yang tepat di posisi yang tepat untuk mendukung kerja tim yang kuat. Pemilihan figur didasarkan pada kemampuan melakukan koordinasi dan kerja sama tim yang baik. Presiden berkepentingan dengan dua hal itu, untuk memiliki dewan menteri dan tim kerja yang baik.

Sementara, Boediono yang dikenal sebagai pribadi yang sedikit bicara banyak bekerja itu, belum mau bicara soal ajakan Presiden SBY tersebut.
Akhirnya Dr. Boediono, pria kelahiran Blitar, Jawa Timur, 25 Februari 1943, itu bersedia menjabat Menko Perekonomian menggantikan Aburizal Bakrie. Ia didukung Menteri Keuangan Sri Mulyani yang juga handal. Mereka membawa perekonomian Indonesia pada track dan daya tahan yang baik, terutama dalam menghadapi krisis ekonomi global.
Kemudian, ada tanggal 9 April 2008, DPR mengesahkan Boediono sebagai Gubernur Bank Indonesia, menggantikan Burhanuddin Abdullah.

Sebelum menjabat Menteri Koordinator Perekonomian Indonesia pada Kabinet Indonesia Bersatu, Menteri Keuangan Kabinet Gotong Royong (2001–2004) dan Kabinet Reformasi Pembangunan (1998-1999), Boediono telah menjabat Menteri Negara Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. Ia juga pernah menjabat Direktur Bank Indonesia pada masa pemerintahan Soeharto.
Guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, ini memperoleh gelar S1 (Bachelor of Economics (Hons.)) dari [Universitas Western Australia] pada tahun 1967. Lima tahun kemudian, meraih gelar Master of Economics dari Universitas Monash. Kemudian meraih gelar S3 (Ph.D) dalam bidang ekonomi dari Wharton School, Universitas Pennsylvania pada tahun 1979. ►e-ti/crs

Biografi Tokoh :
Nama :Dr. Boediono
Lahir :Blitar, Jawa Timur, 25 Februari 1943
Agama :Islam
Isteri :Herawati
Anak :Dua orang

Pendidikan:
- S1: Bachelor of Economics (Hons.), University of Western Australia (1967)
- S2: Master of Economics, Monash University, Melbourne, Australia (1972)
- S3: Doktor Ekonomi Bisnis Wharton School University of Pennsylvania, AS 1979

Pekerjaan:
- Menteri Keuangan Kabinet Gotong Royong (2001-2004)
- Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas Kabinet Reformasi Pembangunan (1998-1999)
- Direktur I Bank Indonesia Urusan Operasi dan Pengendalian Moneter (1997-1998)
- Direktur III Bank Indonesia Urusan Pengawasan BPR (1996-1997)
- Dosen Fakultas Ekonomi UGM

Alamat:
Jalan Mampang Prapatan XX No.26, Jakarta Selatan


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)



Ke tua Umum HKTI dan mantan Pangkostrad dan Komjen Kopassus ini resmi dicalonkan Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya) dalam Kongres Luar Biasa (KLB), di Jakarta Selasa (14/10/2008). Putera begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo, dan mantan menantu Presiden Soeharto, kelahiran Jakarta, 17 Oktober 1951, itu juga menyatakan kesiapannya dicalonkan.

Prabowo yang dalam beberapa bulan terakhir gencar meningkatkan pencitraan diri lewat iklan-iklan di televisi dan media cetak itu dalam hasil survei nasional bulan September yang dilakukan National Leadership Center (NLC) bersama Taylor Nelson Sofress (TNS) Indonesia menduduki peringkat ketiga tokoh yang diinginkan responden menjadi presiden.

enurut dosen ilmu manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Taufik Bahaudin, yang juga Presiden Direktur National Leadership Center (NLC), dalam jumpa pers, Kamis (9/10/2008), iklan yang menampilkan realitas kehidupan yang ditampilkan Prabowo, mampu menarik perhatian masyarakat.
Taufik memperkuat pendapatnya dengan hasil polling terhadap 2.000 orang yang diambil secara random di 200 kecamatan di 30 provinsi bersama lembaga riset Taylor Nelson Sofress (TNS) dalam dua tahap, Juli dan September.

Hasil polling September 2008, Prabowo Subianto dipilih 15 persen responden. Ia berada di urutan ketiga di bawah Susilo Bambang Yudhoyono 34 persen dan Megawati Soekarnoputri 22 persen. Disusul Sultan Hamengku Buwono X dan Wiranto masing-masing 4 persen.

Sementara untuk lima besar di partai, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan mendapat 25 persen, Partai Demokrat (24 persen), Partai Gerindra (13 persen), Partai Golkar (11 persen), dan 5 persen untuk Partai Keadilan Sejahtera.

Namun, menurut Taufik, hasil polling tersebut belum menunjukkan arah Pemilu 2009. Walaupun, ia mengaku terkejut dengan munculnya nama Prabowo Subianto bersama Partai Gerindra diminati responden. Padahal, partai tersebut masih baru dan pertama kali bertanding pada pemilu tahun depan.
Prabowo Subianto
Kembali ke Ladang Pengabdian

Pensiun dari dinas militer, Prabowo beralih menjadi pengusaha. Ia mengabdi pada dua dunia. Nama mantan Pangkostrad dan Komjen Kopassus ini kembali mencuat, menyusul keikutsertaannya dalam konvensi calon presiden Partai Golkar. Kemudian dalam Musyawarah Nasional (Munas) VI Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dan Kongres V Petani 5 Desember 2004 di Jakarta, dia terpilih menjadi Ketua Umum HKTI periode 2004-2009 menggantikan Siswono Yudo Husodo dengan memperoleh 309 suara, mengalahkan Sekjen HKTI Agusdin Pulungan, yang hanya meraih 15 suara dan satu abstein dari total 325 suara.

Putera begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo ini telah kembali ke ladang pengabdian negerinya. Tak berlebihan untuk mengatakannya demikian. Maklum, kendati sudah hampir tiga tahun pulang ke tanah air – setelah sempat menetap di Amman, Yordania – Prabowo praktis tak pernah muncul di depan publik. Apalagi, ikut nimbrung dalam hiruk-pikuk perpolitikan yang sarat dengan adu-kepentingan segelintir elite.

Mantan menantu Soeharto ini lebih memilih diam, sembari menekuni kesibukan baru sebagai pengusaha. ”Kalau bukan karena dorongan teman-teman dan panggilan nurani untuk ikut memulihkan negara dari kondisi keterpurukan, ingin rasanya saya tetap mengabdi di jalur bisnis. Saya ingin jadi petani,” ucap Prabowo.

Diakui, keikutsertaannya dalam konvensi Partai Golkar bukan dilatarbelakangi oleh hasrat, apalagi ambisi untuk berkuasa. Seperti sering diucapkan, bahkan sejak masih aktif dalam dinas militer, dirinya telah bersumpah hendak mengisi hidupnya untuk mengabdi kepada bangsa dan rakyat Indonesia.
Prabowo sangat mafhum, menjadi capres – apalagi kemudian terpilih sebagai presiden – bukan pilihan enak. Karena, siapa pun nanti yang dipilih rakyat untuk memimpin republik niscaya bakal menghadapi tugas yang maha berat. ”Karenanya, Pemilu 2004 merupakan momentum yang sangat strategis untuk memilih pemimpin bangsa yang tidak saja bertaqwa, tapi juga bermoral, punya leadership kuat dan visi yang jelas untuk memperbaiki bangsa,” tambahnya.

Bagi sebagian orang, rasanya aneh menyaksikan sosok Prabowo Subianto tanpa seragam militer. Tampil rapi dengan setelan PDH warna kelabu, lelaki 52 tahun itu memang terlihat lebih rileks jika dibandingkan semasa masih dinas aktif dulu. Senyumnya mengembang dan tak sungkan berbaur dengan masyarakat – utamanya kader-kader Partai Golkar – yang antusias menyambut kedatangannya di beberapa kota.

Dalam setiap orasi selama mengikuti tahapan konvensi calon presiden Partai Golkar, Prabowo bahkan amat fasih bertutur tentang kesulitan yang mengimpit para petani dan nelayan, serta beraneka problem riil di masyarakat yang kian mengenaskan. ”Situasi ini harus cepat diakhiri. Kita harus bangkit dari kondisi keterpurukan dan membangun kembali Indonesia yang sejahtera,” ujarnya di atas podium.

Biografi Tokoh
Nama:
Prabowo Subianto
Lahir:
Jakarta, 17 Oktober 1951
Agama:
Islam

Pendidikan:
SMA: American School In London, U.K. (1969)
Akabri Darat Magelang (1970-1974)
Sekolah Staf Dan Komando TNI-AD

Kursus/Pelatihan:
Kursus Dasar Kecabangan Infanteri (1974)
Kursus Para Komando (1975)
Jump Master (1977)
Kursus Perwira Penyelidik (1977)
Free Fall (1981)
Counter Terorist Course Gsg-9 Germany (1981)
Special Forces Officer Course, Ft. Benning U.S.A. (1981)

Pekerjaan:
Perwira Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (1974 – 1998)
Wiraswasta

Jabatan:
Komandan Peleton Para Komando Group-1 Kopassandha (1976)
Komandan Kompi Para Komando Group-1 Kopassandha (1977)
Wakil Komandan Detasemen–81 Kopassus (1983-1985)
Wakil Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 328 Kostrad (1985-1987)
Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 328 Kostrad (1987-1991)
Kepala Staf Brigade Infanteri Lintas Udara 17/Kujang I/Kostrad (1991-1993)
Komandan Group-3/Pusat Pendidikan Pasukan Khusus
(1993-1995)
Wakil Komandan Komando Pasukan Khusus (1994)
Komandan Komando Pasukan Khusus (1995-1996)
Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (1996-1998)
Panglima Komando Cadangan Strategi TNI Angkatan Darat (1998)
Komandan Sekolah Staf Dan Komando ABRI (1998)

Jabatan Sekarang:
= Ketua Umum HKTI periode 2004-2009
= Komisaris Perusahaan Migas Karazanbasmunai di Kazakhstan
= President Dan Ceo PT Tidar Kerinci Agung (Perusahaan Produksi Minyak Kelapa Sawit), Jakarta, Indonesia
= President Dan Ceo PT Nusantara Energy (Migas, Pertambangan, Pertanian, Kehutanan Dan Pulp) Jakarta, Indonesia
= President Dan Ceo PT Jaladri Nusantara (Perusahaan Perikanan) Jakarta, Indonesia

Tanda Jasa/Penghargaan:
= Bintang Kartika Eka Paksi Nararya (Prestasi)
= Satya Lencana Kesetiaan Xvi Tahun
= Satya Lencana Seroja Ulangan–Iii
= Satya Lencana Raksaka Dharma
= Satya Lencana Dwija Sistha
= Satya Lencana Wira Karya
= The First Class The Padin Medal Ops Honor Dari Kamboja
= Bintang Yudha Dharma Nararya

Keterangan Lain:
Keanggotaan Dalam Organisasi Politik
Dewan Penasihat Organisasi Kosgoro
Keanggotaan Dalam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
Ketua Yayasan Pendidikan Kebangsaan
(Universitas Kebangsaan)
Ketua Majelis Perhimpunan Keluarga Mahasiswa Dan Alumni Supersemar
Pendiri Koperasi Swadesi Indonesia (Ksi) Dengan 14 Cabang Di 4 Provinsi di Indonesia
- Ketua Yayasan 25 Januari
Ketua Umum PB Ikatan Pencaksilat Seluruh Indonesia (IPSI)

Alamat:
NUSANTARA ENERGY GROUP
Menara Bidakara 9th Floor
Jl. Gatot Subroto kav. 71-73
Jakarta 12870 Indonesia

Tel : +62 (0)21 8379 3250
Fax : +62 (0)21 8379 3253

Email :info@prabowosubianto.com
Website : www.prabowosubianto.com

DPP PARTAI GERINDRA
Jl. Brawijaya IX No.1 , Kebayoran Baru
Jakarta Selatan, Jakarta 12160
INDONESIA

62-21-727 95478
62-21-739 5154

Sumber : http://www.tokohindonesia.com


Keadaan politik dan keamanan di negeri ini sangat panas, menjelang dan sesudah Presiden Soeharto berhenti dari jabatannya. Setiap saat bisa saja meledak menjadi kerusuhan massal secara meluas di seluruh wilayah. Pada saat itu Jenderal Wiranto memegang jabatan penting sebagai Menhankam/Pangab. Ia tidak pernah kelihatan panik dalam upaya mengatasi semua masalah.

Dengan tenang dan sabar ia terus mengajak dialog dengan siapa saja, khususnya dengan para civitas academica di perguruan tinggi agar tetap menjaga ketertiban dan keamanan. Begitu pula pada saat masyarakat Aceh merasa kehormatannya tercemar dengan selalu dijaga oleh Pemerintah Pusat dengan operasi militer yang tak kunjung usai, maka atas permintaan rakyat Aceh pada Agustus 1998 Wiranto datang ke Aceh untuk menarik seluruh pasukan yang bukan organik di Aceh, atau lebih dikenal dengan pencabutan DOM (Daerah Operasi Militer).

Ketika di Sambas terjadi perkelahian antar saudara, demikian pula ketika Maluku mengalami hal yang sama, ia selalu datang ke wilayah konflik tersebut untuk berusaha mendamaikan pihak-pihak yang bertikai. Bahkan untuk Timor Timur yang telah bertikai selama 23 tahun, ia berhasil mengajak mereka melakukan perdamaian pada 21 Apri11999.

Tiga Presiden
Dalam setiap jenjang karirnya, ia selalu berupaya menimba pengalaman sebanyak-banyaknya. Ia pun menimba pengalaman dari tiga presiden. Dengan Presiden Soeharto, ia menjalin hubungan sebagai ajudan Presiden selama hampir empat tahun dan sebagai Kasad serta Menhankam /Pangab selama tiga bulan.

Jabatan inilah yang secara politis sering dijadikan dalih untuk terus memojokkannya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari rezim Orde Baru, sebagai putera mahkota yang sangat dekat dengan Pak Harto, kental militerismenya dan sebagainya.

Menghadapi tuduhan itu, ia tidak pernah mengelak dengan cara-cara pengecut. Ia justru berpendapat, bahwa Orde Lama, Orde Baru atau orde pasca Orde Baru hanyalah pemberian nama dari penggalan sejarah republik ini. “Tetapi, yang pasti kita semua tidak boleh lari dari kenyataan bahwa kita ada di dalamnya dengan memerankan bagian kita masing-masing. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya kita pasti mendapat manfaat dari setiap orde itu,” katanya dalam buku “Mengenal Wiranto Calon Presiden RI 2004-2009” yang diterbitkan IDe Indonesia (2003).

Oleh karenanya, ia heran dan menyesalkan sebagian dari elit politik yang lari ke sana ke mari hanya karena takut dicap sebagai bagian dari suatu orde tertentu. Baginya, selama mendampingi Presiden Soeharto justru memberikan manfaat dapat memahami secara sungguh-sungguh pikiran, keinginan, dan tindakan seorang presiden yang telah berpengalaman memimpin satu negeri selama 30 tahun lebih. Ibaratnya masuk dalam sebuah kursus tentang bagaimana mengatur suatu negara lengkap mulai teori hingga mengikuti prakteknya.

Begitu pula selama dua puluh dua bulan bersama Presiden B.J. Habibie, ia menduduki posisi sebagai Menhankam/Pangab. Saat itu, dengan basis seorang teknokrat, Presiden B.J. Habibie melakukan pembaharuan-pembaharuan yang diharapkan memenuhi tuntutan demokratisasi. Sebagai Menhankam/Pangab dan menjadi bagian dari satu tim yang meletakkan dasar-dasar reformasi secara konseptual dan konstitusional, ia mempunyai posisi yang sangat penting dari proses reformasi itu.

Sidang Istimewa 1999 dapat berlangsung dan sukses berkat pengamanan TNI/Polri. Begitu pula Pemilu 1999 terselenggara dengan baik berkat netralitas TNI/Polri. Sidang Umum MPR 1999 dapat berjalan dengan baik antara lain berkat kesediaan Wiranto untuk mundur dari rivalitas memperebutkan jabatan presiden dan wakil presiden.

Dalam Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, ia juga ikut serta menyusun kabinet dan selanjutnya dipercaya menjadi Menko Polkam. Pada periode ini memang seringkali ia berbeda pendapat dengan presiden. Bukan untuk membantah keinginan presiden, melainkan lebih tepat sebagai upaya memberi saran yang baik sehubungan pengalamannya selama mendampingi dua presiden sebelumnya.

Sering terjadinya perbedaan pendapat ini menyebabkan Wiranto tidak dapat bertahan lama pada pemerintahan Gus Dur. Ia dinonaktifkan dengan alasan yang tidak jelas. Logikanya kalau dicopot berarti ada kesalahan dan kalau ada kesalahan berarti harus diberitahukan dan dijelaskan ke publik. Namun, pada kenyataannya tidak pernah ada penjelasan sama sekali. Memang serba tidak jelas, seperti ruwetnya Gus Dur naik dan turun dari kursi kepresidenan.

Ketika itu, akhir tahun 2000, sambil berkeliling dunia Gus Dur minta agar Wiranto mundur saja dari jabatan sebagai Menko Polkam. Apa alasannya tidak jelas. Pada saat Gus Dur memerintahkan berturut-turut dua pejabat negara Bondan Gunawan dan Juwono Soedarsono untuk memintanya mundur, juga tidak diperoleh alasan yang jelas.

Awal Januari 2001, pada pukul 10.00 sampai dengan 12.00 WIB, sepulang dari luar negeri Presiden Abdurrahman Wahid mengadakan pertemuan tertutup dengan Wakil Presiden Megawati, Jaksa Agung Marzuki Darusman, dan Jenderal Wiranto di Istana Merdeka. Ketika itu, keputusan yang diambil, Jenderal Wiranto tidak perlu mundur.

Namun, tiga belas jam kemudian, sekitar pukul 23.00 WIB, secara sepihak Gus Dur menyatakan Wiranto nonaktif dari Menko Polkam. Suatau tindakan Presiden yang benar-benar aneh, tapi nyata. Hal seperti itu ternyata dapat terjadi pada pemerintahan yang katanya demokratis.

Beberapa bulan kemudian Wiranto dengan pertimbangan yang matang, memastikan bahwa pada posisi nonaktif sebagai Menko Polkam jelas akan mengganggu kinerja Kabinet. Dalam konteks pengabdian kepada bangsa dan negara, jabatan nonaktif itu tak ada artinya lagi, bagaikan slogan kosong, hanya atribut formal yang tak bernilai apa- apa bagi seseorang yang memandang jabatan sebagai wahana pengabdian. Atas dasar pertimbangan itulah Jenderal Wiranto resmi minta berhenti dari Menko Polkam.

Walaupun hanya tiga bulan dijalani bersama Gus Dur, namun sudah cukup baginya untuk lebih meyakini bahwa untuk mengatur negara sebesar Indonesia ini tidaklah mungkin berhasil tanpa kepemimpinan yang kuat, strategi yang jitu, program yang jelas serta pelaksanaan yang konsisten.

Dari pengalamannya mendampingi tiga Presiden RI, ia memetik pelajaran berharga bahwa menjadi pemimpin itu mudah, namun untuk menjadi pemimpin yang berhasil tidak semua orang dapat melakukannya. Diperlukan banyak kelebihan untuk menjadi pemimpin yang berhasil yang berarti mampu mengaktualisasikan visi menjadi kenyataan.

Ia tidak hanya belajar dari keberhasilan ketiga presiden yang didampinginya, tetapi lebih lagi belajar dari kegagalan mereka. Menurutnya, kegagalan itu sebenarnya hanya ada dua penyebabnya. Pertama, pemimpin yang mampu berpikir tetapi tak pernah mampu melaksanakannya. Dan, kedua, pemimpin yang terus melaksanakan niatnya namun tanpa berpikir. Sementara yang kita butuhkan adalah seorang pemimpin yang mampu berpikir sekaligus mahir dalam melaksanakannya.

Untuk bisa berpikir, dibutuhkan kualitas intelektual yang memadai agar dapat memahami permasalahan. Sedangkan dalam pelaksanaan pengamalan visinya diperlukan pengalaman memimpin yang cukup, terutama pada tingkat negara. Tanpa itu seorang pemimpin hanya akan menjadi sumber permasalahan di negeri sendiri.

Tak heran bila Prof. Dr. Taufik Abdullah, dalam ‘Orang Berkata Tentang Wiranto, 2001’ menyatakan rasa simpatiknya pada Wiranto. Menurut sejarawan senior LlPI ini, Wiranto memiliki kemampuan artikulasi yang tinggi dan bisa mengkategorikan masalah secara tuntas dan tepat.

Dari semua pengalamannya itu terlihat jelas bahwa Wiranto sangat memahami tuntutan reformasi, ikut mengawal berkembangnya reformasi, dan ikut meletakkan dasar-dasar reformasi. Dan kini ikut menyaksikan tatkala reformasi mulai kehilangan arah dan menyimpang dari tujuannya yang mendorongnya untuk mencalonkan diri menjabat Presiden 2004-2009.

Ia merasa yakin akan mampu mewujudkan reformasi sesuai dengan tujuannya semula. Keyakinan ini tidaklah berlebihan bila mencermati pengalaman dan track record-nya selama ini. Dari pendekatan kepemimpinan (presiden), ia telah menyerap kepemimpinan dari tiga presiden dengan segala kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Dari pendekatan manajemen krisis, ia telah melakukan langkah-langkah nyata dan berhasil membawa bangsa ini melewati masa-masa krisis yang sangat berbahaya bagi eksistensi negara.

Merakyat
Sebagai seorang yang dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga bersahaja, Wiranto tak pernah melupakan bahwa ia berasal dari rakyat, bersama rakyat, dan kembali untuk rakyat. Terbukti dalam setiap poisisi yang digumulinya ia selalu berupaya dekat dengan rakyat.

Apalagi setelah ia benar-benar kembali sebagai masyarakat biasa dalam beberapa tahun terakhir ini, ia banyak mengunjungi berbagai daerah, berbicara dan bergaul dengan rakyat setempat, merasakan apa yang mereka rasakan dan menampung apa yang mereka harapkan, menyerap aspirasi rakyat. Menurutnya, di tengah masyarakat itu ada suatu kerinduan terhadap suasana yang pernah mereka rasakan, di mana suasana itu aman, tenteram, dan membahagiakan sehingga orang tidak terancam kehidupannya.

Di tengah masyarakat itu ia menemukan suatu istilah bahwa masyarakat butuh KTA. KTA bukan kartu anggota, melainkan Kenyang, Tenang dan Aman. Sutau kebutuhan dan permintaan yang sangat sederhana yang sampai saat ini belum dapat diwujudkan.

Kedekatannya dengan rakyat, antara lain terlihat dari penobatannya sebagai Ketua Dewan Pembina Perhimpunan Pengusaha Warung regal (Warteg) se-Jabotabek dan Pantura. Penobatan ini dilakukan berdasar hasil pengamatan para pengusaha Warteg. Bahwa Wiranto paling sering dijumpai makan di Warteg menyatu dengan masyarakat bawah lainnya.

Beberapa waktu lalu, mantan Pangab ini terlihat tidak canggung bekumpul bersama rakyat dan pengusaha Warteg di Gunung Putri. Ia dengan santainya berjoged di panggung sambil melantunkan lagu dangdut berjudul Jatuh Bangun. Tampaknya, di situ ia sungguh menemukan kembali ‘habitatnya’ yang oleh alasan protekoler dan lain sebagainya selama ini agak berjarak pada saat dia masih aktif sebagai pejabat.

Keakrabannya dengan segala lapisan masyarakat juga didukung beberapa kelebihannya, di antaranya penguasaannya terhadap kesenian dan terutama seni olah vokal. Dengan kemampuannya yang lumayan itulah maka dengan mudah dan cepat ia mampu berbaur dan tidak canggung berada di antara para seniman, selebriti, pejabat, pengusaha hingga masyarakat kecil.

Kegemarannya itu jualah yang memberi kesempatan kepadanya dapat mengumpulkan dana untuk disumbangkan kepada para pengungsi akibat kerusuhan dengan cara menjual album perdananya yang diberi judul Untukmu Indonesiaku.

Selain itu, ia juga tokoh yang menyatu dengan kalangan olahraga. Selain gemar berolahraga, ia memang terjun mengurusi beberapa bidang olahraga. Di bidang ini, bahkan ia dijuluki sebagai manusia bertangan dingin.

Beberapa jenis olah raga yang ditanganinya selalu saja maju dan meraih prestasi yang dapat dibanggakan. Pada saat memimpin olahraga Taekwondo maupun sebagai Ketua Umum PB FORKI (Federasi Karatedo Indonesia), prestasi Indonesia seakan tak terbendung di kawasan ASEAN. Pernah KONI Pusat menargetkan 7 dari 20 medali yang diperebutkan, tak tanggung-tanggung FORKI mempersembahkan 14 medali emas untuk Indonesia.

Begitu pula sebagai Ketua Umum PB GABSI (Gabungan Bridge Seluruh Indonesia), jenis olahraga otak yang tak begitu dipahaminya pada saat pertama menjabat, namun dengan kegigihannya pasukan Bridge Indonesia dibawanya berjuang selama 8 tahun dan akhirnya menjadi juara dunia pada tahun 2000 di Swiss. Tim terkuat dunia AS, Perancis Itali, Polandia, Belanda, China, satu persatu dibabat oleh tim yang dibinanya.

"Saya buktikan, kalau kita mau berjuang dengan sungguh-sungguh, kita bisa lebih cerdas dan unggul dari bangsa barat yang seakan tak terkalahkan," ujar peraih predikat sebagai Pembina Olahraga Terbaik, baik dari Menteri Pemuda dan Olahraga maupun dari KONI Pusat ketika itu.

Kiatnya, sama seperti setiap ia dipercayakan memegang jabatan tertentu, adalah keikhlasan, pengabdian, dan pengorbanan. “Jangan sekali-kali untuk cari makan atau digunakan sebagai alat politik!" ujarnya.

Kini dia sudah siap kembali berjuang untuk negerinya pasti bukan karena mengejar jabatan, tetapi semata-mata untuk menyelamatkan bangsanya. Seperti yang sering diucapkannya, "Bangsa ini telah banyak kehilangan waktu, tenaga, dan pikiran hanya untuk bertengkar satu dengan lainnya. Yang kita dapatkan bukan keamanan, keadilan, dan kesejahteraan, namun justru suasana yang penuh dengan disharmoni, disorientasi, dan disintegrasi di antara kita. Maka seharusnya semua anak bangsa merasa terpanggil untuk berpikir dan bertindak dalam satu sinergi yang kuat demi penyelamatan bangsanya."

Dalam buku Mengenal Wiranto, ditegaskan bahwa dengan kembalinya ke gelanggang politik, Wiranto pasti sudah memperhitungkan akan ada berbagai upaya untuk mencegat, menghantam, menfitnah, dan berbagai upaya lainnya. Semua itu kelihatannya tidak menyurutkan niatnya untuk ikut melanjutkan darma baktinya. Dengan pengalamannya di medan tempur, memimpin ABRI pada saat yang sulit, dan mengatasi berbagai permasalahan bangsa selama mendampingi tiga Presiden, Wiranto telah membangun dirinya menjadi sosok pemimpin yang lebih kuat dan matang.

"Kalau saya mendapat kepercayaan memimpin negeri ini, saya hanya minta satu periode saja, banyak generasi muda yang lebih cakap yang akan menggantikan nanti." Itulah janjinya yang sekaligus menunjukkan sekali lagi bahwa jabatan bukan tujuan utamanya.

Akhirnya, ia berkata semua itu terpulang kepada masyarakat. Biarlah masyarakat memilih pemimpinnya secara bebas sesuai dengan kebutuhan dan hati nuraninya.

Biografi Tokoh :

Nama:
Wiranto
Lahir:
Yogyakarta, 4 April 1947
Agama:
Islam
Isteri:
Hj. Rugaiya Usman, SH
Ayah:
RS Wirowijoto
Ibu:
Suwarsijah

Pendidikan:
Akademi Akademi Militer Nasional, lulus 1968
Sussar Para 1968
Sussarcab Infantri 1969
Susjur Dasar Perwira Intelijen 1972
Suslapa Infantri 1976
Suspa Binsatlat 1977
Sekolah Staf dan Komando TNI AD 1984
Lemhanas 1995 (Peserta Terbaik)

Pangkat:
Letnan Dua 1968
Letnan Satu 1971
Kapten 1973
Mayor 1979
Letkol 1982
Kolonel 1989
Brigjen TNI 1993
Mayjen TNI 1994
Letjen TNI 1996
Jenderal TNI 1997

Karir Militer:
Korps Kecabangan Infantri 1968
Komandan Peleton Yonif 713 Gorontalo, Sulawesi Selatan
Komandan Yonif 712 1982
Karo Tiknik Dirbang 1983
Kadep Milnik Pusif 1984
Kepala Staf Brigade Infanteri IX, Jawa Timur 1985
Wakil Asisten Operasi Kepala Staf Kostrad, Jakarta 1987
Asisten Operasi Divisi II Kostrad, Jawa Timur
Ajudan Presiden 1989-1993
Kasdam Jaya 1993-1994
Pangdam Jaya 1994-1996
Panglima Kostrad 1996-1997
Kepala Staf Angkatan Darat 1997-1998
Panglima ABRI 1998-1999

Menteri
Menhankam/Pangab 1998 (Kabinet Pembangunan VII)
Menhamkan/Pangab/Pang TMI 1998-1999 (Kabinet Reformasi Pembangunan-Habibie)
Menko Polkam, 1999-2000 (Kabinet Persatuan Nasional-Gus Dur)

Hobi:
Menyanyi, Bulutangkis, golf, tenis lapangan
Organisasi Olahraga:
Ketua Umum Federasi Karatedo Indonesia (FORKI)
Ketua Umum Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (GABSI)

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)


BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.

Texts



Blog UP

Your IP

IP

Pengikut

Cari Blog Ini

review www.setizone.com on alexa.com
SILAHKAN MEMBACA ARTIKEL DISINI ATAU COMEN DI BUKU TAMU
jual beli liberty reserve, jual beli paypal

Please YM Me

Ziddu

Tuker Link Blog
setizone.blogspot.com

Tukeran Link Yuk...!

new

Widget by Blogger Buster

BUKU TAMU

Pages

Pages

Pages

SELAMAT MEMBACA

About

Popular Posts